Proyek Jembatan Selat Sunda itu Sesat!

  • Oleh :

Kamis, 13/Mar/2014 07:45 WIB


JAKARTA (beritatrans.com) - Ekonom Faisal Basri mengingatkan proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) yang akan menelan dana pembangunan Rp200 triliun akan merugikan pemerintah dan ekonomi nasional dalam jangka panjang.Dia menegaskan potensi kerugian muncul dengan atau tanpa adanya kawasan industri, yang mengiringi pembangunan kawasan industri di sekitar JSS.Faisal mengingatkan pembangunan jembatan itu menafikan potensi besar Indonesia sebagai negara maritim. Selain itu, JSS menjadi bukti pemerintah kembali terfokus ke wilayah barat nusantara."JSS ini menyesatkan, sebab negeri kita maritim. Kalau alasannya interkoneksi, kenapa enggak bangun juga jembatan Jawa-Kalimantan. Itu sesat semua, jelas ongkos distribusi tetap lebih murah dengan kapal," tegasya.PATAHKAN HATTAKomentar Faisal Basri tampaknya mematahkan pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Rabu (12/3).Mantan menteri perhubungan ini mengingatkan peran strategis JSS, termasuk kawasan industri di sekitarnya. Hatta mengemukakan data pemerintah memperlihatkan aktivitas logistik darat antara Sumatera dan Jawa amat tinggi.Dalam setahun, dua juta kendaraan menyeberangi Selat Sunda. Akan tetapi, karena kualitas infrastruktur buruk, ditambah antrean di Merak maupun Bakauheni, maka ongkos logistik jadi membengkak."Volume perdagangan itu tinggi sekali dan angkutan logistiknya sangat tinggi sekali. Kalau ada jembatan, cost logistik akan turun," ujarnya.Jalan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Sumatra itu diberikan hak pengerjaan kepada perusahaan konsorsium, PT Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS). Konsorsium yang dibentuk oleh konglomerat Tommy Winata tersebut juga bersiap mengembangkan kawasan industri di masing-masing provinsi.Konsorsium tersebut rencanya akan menggandeng BUMN untuk ikut investasi. Sejak tahun lalu, GBLS telah membebaskan lahan di Provinsi Banten dan Provinsi Lampung. (aw).