Avtur Mahal, Ini Kata Dirut PT Angkasa Pura (AP) I

  • Oleh :

Rabu, 01/Okt/2014 17:25 WIB


JAKARTA (beritatrans.com) - Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) I Tommy Soetomo angkat bicara soal mahalnya harga avtur di beberapa bandara di Tanah Air. Tapi masalah ini jangan lantas dibebankan ke pihak operator bandara termasuk AP I.Pengenaan fuel throughput charge oleh operator bandara, karena Pertamina selaku penyedia avtur memakai fasilitas atau infrastruktur yang dibangun dan dibiayai oleh bandara. "Tidak ada bedanya dengan semua badan usaha yang berusaha di bandara, maka akan dikenakan fee atau charge sesuai dengan aturan dan prinsip-prinsip yang berlaku umum," kata Tommy dalam keterangannya tertulisnya di Jakartam, Rabu (10/1/2014).Sebelumnya, Indonesian National Air Carriers Association (INACA) atau asosiasi penerbangan Indonesia menyinggung 2 hal utama yang mempengaruhi mahalnya harga avtur yang dijual PT Pertamina (Persero) di bandara-bandara Indonesia.Salah satunya adalah tarif tambahan (fuel throughput charge) yang dikenakan oleh operator bandara, yakni PT Angkasa Pura I (AP I) dan Angkasa Pura II (AP II).Menurut Tommy, fuel throughput charge berlaku umum pada bandara-bandara di dunia. Perhitungan fuel throughput charge mengikuti jumlah atau volume avtur yang dijual oleh penyedia bahan bakar kepada maskapai. Besaran fuel throughput charge yang dipungut oleh AP I pada bandara-bandara yang dikelolanya bervariatif, dan relatif kecil secara nominal. "Selisihnya harga avtur antara bandara di Indonesia dan di luar negeri konon mencapai 20%, sementara fuel throughput charge yang dikenakan hanya berkisar Rp 5 sampai dengan Rp 25 per liter," jelasnya.Tommy menjelaskan, fuel throughput charge termahal pada bandara di bawah pengelolaan AP I adalahdi Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Ngurah Rai Denpasar. Perhitungan fuel throughput charge di Bandara Juanda Rp 25 per liter hanya berpengaruh kecil terhadap harga avtur yang dijual Pertamina, sekitar Rp11.000 per liter. Artinya porsi biaya dari fuel throughput charge terhadap mahalnya harga avtur sangat kecil. "Maka kontribusinya maksimal hanya sebesar 0,23% saja," ujarnya.Berikut fuel throughput charge yang dikenakan AP I pada bandara-bandara yang dikelolanya:Bandara Juanda Surabaya senilai Rp 25 per literBandara Ngurah Rai Denpasar senilai Rp 25 per literBandara Sultan Hasanuddin Makassar senilai Rp 17 per literBandara Sepinggan Balikpapan senilai Rp 8 per literBanadra Adisutjipto Yogyakarta senilai Rp 5 per literBandara Syamsuddin Noor Banjarmasin senilai Rp 5 per literBandara Sam Ratulangi Menado senilai Rp 5 per literBandara Pattimura Ambon senilai Rp 5 per literBandara Lombok senilai Rp 5 per literBandara Adi Sumarmo Solo tidak dikenakanBandara Ahmad Yani Semarang tidak dikenakanBandara Frans Kaisepo Biak tidak dikenakanBandara El Tari Kupang tidak dikenakan"Dengan data di atas, bagaimana mungkin kontribusi maksimum yakni hanya di 2 bandara AP I sebesar 0,23% menjadi faktor atas lebih mahalnya harga avtur yang selisihnya mencapai 20% di banding dengan luar negeri?" terang Tommy.(helmi)