SP Pertamina Menolak Disebut Menjual "Barang Busuk"

  • Oleh :

Kamis, 28/Mei/2015 06:29 WIB


JAKARTA (beritatrans.com) -Di tengah goncangan isu mafia migas serta desakan untuk membubarkan Petral, membuat serikat pekerja (SP) Pertamuna tampil ke muka membela BUMN itu. Mereka tak rela disebut sebagai "mafia" apalagi diklaim menjual barang busuk dan merugikan negara."Ketika Pertamina diusik oleh siapapun dengan alasan apapun yang pada ujungnya mampu mengerdilkan badan usaha milik negara (BUMN) migas dan atau bertujuan melumpuhkan peran dan keberadaan Pertamina, sudah seharusnya insan Pertamina maupun anak anak bangsa lainnya untuk tampil membela Pertamina," kata pengamat migas Sofyano Zakaria di Jakarta, Kamis (28/5/2015). "Pertamina adalah asset bangsa. Dia dilahirkan untuk memenuhi ketersediaan dan ketahanan energi bagi bangsa ini. Keuntungan dan pajak yang dihasilkannya sepenuhnya juga diserahkan dan menjadi milik negara dan bangsa," jelas Sofyano.Harus diakui, peran pekerja Pertamina sangat luar biasa dlm melayani masyarakat negeri ini. Pengabdian insan Pertamina tidak mengenal waktu dan jarak. "Ketika rakyat negeri ini merayakan hari hari raya Lebaran misalnya, Pekerja Pertamina dan mitranya harus bekerja untuk masyarakat. Ketika Pertamina diusik maka insan-insan Pertamina yang peduli secara tulus kepada Pertamina akan tampil menyuarakan pembelaan itu," tandas Direktur Puskepi itu.Sebelumnya, Ugan Gandar sebagai Ketua Dewan Penasehat Forum Serikat Pekerja Pertamina Brsatu (FSPPB) mengau siap membela Pertamian dengan melawan semua kekuatan yang hendak menghancurkan Pertamina atau membuat BUMN Migas itu kalah bersaing dengan lainnya. "Saya menyadari sepenuhnya melalui pencermatan yang seksama, dalam kepemimpinan Direksi Pertamina sekarang banyak pihak yang mencoba memojokkan, menghujat, membully, mendiskreditkan Pertamina," kata Ugan.Berbagai cara yang dilakukan melalui isu terkait pejabat-pejabat Pertamina, Premium Ron 88, Premium 92 bahkan isu kenaikan harga BBM. "Ada pula sebutan sebagai mafia migas sampai dikatakan seorang pengamat bahwa Pertamina menjual barang busuk yang disebut premiun Ron 88," sebut Ugan dengan geram."Premiun Ron 88 adalah barang negara dan disubsidi dari APBN. Keputudan menjual dan mendistribusikan premium disepakati Pemerintah dan DPR, sedang Pertaminina hanya operator di lapangan saja. Apakah pantas pernyataan seperti itu dikeluarkan," tanya Ugan diplomatis. Menurut dia, sangat nyata dan terang benderang, salah satu direktorat yang mendapat tekanan terus menerus adalah Dit. MT yang memang dalam tugas sehari-hari erat berhubungan dan bertanggung jawab terhadap harga BBM. "Tapi tidak semua langkah dan kebijakan Pertamina buruk dan keputusan menjual Premiun Ron 88 bukan maunya Pertamina. Kalau semua disebut "mafia" maka semua unsur terlibat baik DPR, Pemerintah dan lainnya juga mafia," tandas Ugan.(helmi)