Capt. Sahattua: Nakhoda Harus Profesional Dan Bisa Pimpin Evakuasi Korban Di Laut

  • Oleh : an

Minggu, 14/Feb/2016 13:51 WIB


JAKARTA (BeritaTrans.com) Bekerja di kapal apalagi saat cuaca buruk, kalau mau jujur merupakan pekerjaan yang sangat riskan. Dibutuhkan SDM (sumber daya manusia) profesional, mampu bekerja cepat, tepat sekaligus mampu membangun kerja tim yang solid. Mereka sekaligus bisa memimpin evakuasi dan penyelamatan korban jika sampai terjadi bencana di kapal.Demikian disampaikan Kepala Syahndar Utama Tanjung Priok Capt. Sahattua P Simatupang, MH,MM dalam perbincangan dengan BeritaTrans.com dan tabloid BeritaTrans, kemarin. Menurutnya, pelaut terlebih seorang nakhoda praktis harus piawai dan mampu menggerakkan seluruh anak buah kapal (ABK) sehingga mampu memimpin satu pelayaran dengan baik dan selamat. Jika dalam kondisi genting pun, seorang nakhoda harus tetap tenang dan professional, sehingga bisa memimpin evakuasi atau penyelematan korban semaksimal mungkin, kata Sahattua lagi.Dalam kondisi genting misalnya, kata dia, maka nakhoda harus bisa memimpin ABK dan penumpang lainnya untuk menyelamatkan diri. Mulai berkumpul dititik yang tepat, melepas dan menurunkan liferaft dan seterusnya. Liferaft harus diturunkan secepatnya, sehingga penumpang dan ABK bisa menyelamatkan diri, jelas alumni AIP Jakarta Angkatan 29 itu. Semua hanya dalam hitungan detik. Melepas liferaft misalnya, harus cepat. Mulai nakhoda memberikan aba-aba siapkan liferaft, melepas tali sampai menurunkan ke laut. Begitu aba-aba launching atau lepas, maka liferaft harus dilepas dalam kondisi baik dan posisi tepat, sehingga bisa mengembang dengan optimal untuk selanjutnya dimanfaatkan untuk menyelamatkan diri, papar Sahatta tua.Sesuai aturan UU Pelayaran, setiap kapal harus dilengkapi dengan alat-alat keselamatan yang cukup dan dalam kondisi baik. Itulah sebabnya, operator kapal harus tetap merawat dan menjaga alat-alat keselamatan dengan optimal. Dalam kondisi darurat misalnya, bisa digunakan untuk menyelamatkan diri, terang Sahattua disampingi staf dan krew kapal Km Tanto Setia itu.2016-02-12 16.35.43Setiap kapal, lanjut dia, dilengkapi skoci dan liferaft di sisi kiri dan kanan. Selain itu juga pelampung sesuai kebutuhan dan jumlah penumpang dan ABK yang dibawa. Jika kapal miring ke kiri misalnya, maka liferaft kanan yang digunakan. Begitu juga sebaliknya, semua harus dipastikan siap operasi dan dalam kondisi prima. Dalam kondisi genting, semua harus bisa dilakukan dalam hitungan detik. Jika tidak , maka nyawa manusia menjadi taruhannya, urai Sahattua.Oleh karena itu, tambah dia, sebagai Kepala Syahbandar Utama Tanjung Priok, pihaknya akan memastikan semua alat keselamatan kapal yang sandar di Pelabuhan Tanjung Priok dalam kondisi prima. Demikian juga, kapal yang akan berlayar juga harus dipastikan memenuhi aspek keselamatan. Jika ada yang kurang, maka surat izin berlayar (SIB) tak akan dikeluarkan, tandas Sahattua.Seperti instruksi Menhub Ignasius Jonan serta arahan Dirjen Perhubungan Laut Capt. Bobby R Mamahit, seluruh kepala UPT dan nakhoda kapal harus waspada dan siap mengantisipasi ancaman cuaca buruk dan dampak negative yang mungkin menimpanya. Semua harus dipastikan memenuhi syarat dan aturan keselamatan. Aparat Syahbandar Tanjung Priok akan melakukan pengawasan dan setiap waktu melakukan uji petik untuk memastikan kapal dan penumpang atau muatannya dalam kondisi prima dan memenuhi aspek keselamatan, tegas Sahattua.(helmi)