Bay: Kalau Tarif Pergudangan Berlarut Larut , Kita Bangun CFS

  • Oleh :

Kamis, 28/Apr/2016 01:24 WIB


JAKARTA (BeritaTrans.com) - "Kalau penyedia dan pengguna jasa sulit bersepakat untuk menentukan tarif layanan pergudangan barang impor berstatus Less Than Container Load (LCL), wacana pembangunan fasilitas CFS ( Container Freight Station) mendesak diwujudkan," kata Kepala Otoritas Pelabuhan (OP) Tanjung Priok. CFS adalah fasilitas tempat penyimpanan barang impor dari petikemas berstatus LCL dan masih dalam pengawasan pabean serta berlokasi di lini 2 dalam pelabuhan, kata Kepala OP Pelabuhan Tanjung Priok, Bay M Hasani, Rabu (27/4/2016).Soal tarif layanan pergudangan ini kembali ramai setelah pengusaha Tempat Penimbunan Sementara (TPS) Pelabuhan Priok yang melayani kargo impor status LCL mulai 1 Mei 2016 akan menaikkan tarif pergudangan jadi Rp 150.000/ton/m3 (cbm) . Tarif ini akan ditagihkan kepada pengusaha forwarding atau operator gudang.Namun karena diprotes oleh asosiasi pengguna jasa, OP belum menyetujui pemberlakuan tarif tersebut. "Dalam rapat Rabu (27/4/2016) saya minta kepada penyedia dan pengguna jasa untuk menyepakati besaran tarif layanan pergudangan. Sebelum ada kesepakatan tarif tersebut jangan diberlakukan dulu," katanya usai memimpin rapat.Rapat dihadiri asosiasi pengguna dan penyedia jasa seperti Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Gabungan Importir Nasional.Seluruh Indonesia (GINSI), Asosiasi Pengusaha Depo dan Pergudangan (Apdepi), Asosiasi Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara Indonesia (Aptesindo) serta perwakilan Bea dan Cukai.Bay mengingatkan jika penentuan tarif pergudangan ini berlarut larut , OP akan berkoordinasi dengan Bea dan Cukai serta Pelindo II sebagai pemilik lahan untuk membangun fasilitas CFS dengan tarif single billing.Jika semua kargo impor LCL disimpan di CFS penentuan tarif mau pun pengawasan akan menjadi lebih mudah dan tidak ada lagi Pindah Lokasi Penimbunan (PLP) di luar pelabuhan, ujarnya.Kepala Otoritas Pelabuhan (OP) Tanjung Priok, Bay M Hasani mengakui penyedia dan pengguna jasa layanan barang petikemas Less Than Container Load (LCL) paling sulit mencapai kesepakatan dalam menentukan tarif.Sebelumnya tarif pergudangan barang status LCL yang ditagihkan kepada pemilik barang sudah 5 tahun vacum karena tidak sepakat antara pengguna dan penyedia jasa. (wilam)

Tags :