Pelayaran Banda Aceh-Sabang Dihadang Ombak Setinggi 3 Meter

  • Oleh :

Kamis, 16/Feb/2017 22:57 WIB


BANDA ACEH (BeritaTrans.com) - Pelayaran KMP BRR dari Ulee Lheue, Banda Aceh ke Balohan, Sabang dan sebaliknya sejak Rabu (15/2/2017) sore terhenti. Sebelumnya pukul 14.00 WIB kapal sempat berlayar satu trip dari Sabang ke Banda Aceh. Terhentinya pelayaran kapal lambat itu karena angin kencang disertai gelombang setinggi tiga meter melanda perairan Banda Aceh-Sabang. Akibatnya, sejumlah kendaraan pribadi dan truk pengangkut material tertahan di Pelabuhan Ulee Lheue.Kepala UPTD Pelabuhan Ulee Lheue, Rusmansyah kepada Serambi, kemarin, mengatakan, untuk kapal cepat, sejak pagi kemarin memang sudah diputuskan tak berlayar dari Sabang ke Banda Aceh dan sebaliknya. Sebab, tingginya gelombang tak memungkinkan kapal cepat berlayar.Sedangkan KMP BRR, menurutnya, kemarin dijadwalkan berlayar dua trip yaitu dari Sabang ke Banda Aceh pukul 14.00 WIB dan dari Banda Aceh kembali ke Sabang pukul 16.00 WIB. Namun setelah berangkat dari Balohan ke Ulee Lheue, kapal tersebut gagal kembali ke Sabang akibat angin kencang dan gelombang tinggi.Rencananya pukul 16.00 WIB KMP BRR kembali berlayar ke Sabang. Namun, karena angin kencang dan gelombang tinggi, kapal tak memungkinkan untuk berlayar. Karena itu pelayaran sore ini (kemarin sore-red) ditunda, ungkapnya.Jika kondisi cuaca membaik, tambah Rusmansyah, KMP BRR akan berlayar kembali ke Sabang pada Kamis (16/2) pagi ini. Sementara kendaraan, akan diutamakan truk pengangkut sembako dan mobil pribadi. Pantauan Serambi di pelabuhan, KMP Papuyu, KMP Labuhan Haji, dan kapal cepat Express Bahari juga sandar di Dermaga Ulee Lheue.Angin kencang yang melanda Banda Aceh dan Aceh Besar belakangan ini diprediksi akan berlangsung hingga empat hari ke depan. Kondisi itu mengakibatkan tingginya gelombang laut hingga 3 meter dan dapat memicu terjadinya kebakaran hutan.Kepala Seksi Data dan Informasi (Datin) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar, Zakaria kepada Serambi, Rabu (15/2) mengatakan, angin kencang yang melanda hampir semua wilayah di Aceh terjadi akibat adanya tekanan udara rendah di Benua Australia. Menurutnya, angin berkecepatan 10 hingga 60 kilometer per jam itu sangat terasa pada siang hingga sore hari.Ditambahkan, hampir seluruh wilayah Aceh saat ini memasuki masa pancaroba yaitu peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Perubahan cuaca dari panas menjadi hujan deras terjadi mendadak. Hal ini dirasakan masyarakat Singkil, Subulussalam, Aceh Tenggara, dan Aceh Selatan, sebut Zakaria.Khusus petani di Seulawah, sebagian Aceh Besar, Pidie bagian pegunungan dan Pijay, hingga Aceh Tamiang, ia mengimbau agar tidak membuka lahan dengan cara membakar semak belukar. Angin kencang dapat memicu kebakaran besar. Apalagi belakangan ini intensitas hujan sangat sedikit, pungkasnya. (ani).