Atasi Kemacetan Jakarta, Organda: Perlu Mencari Formula Dengan Resiko Kecil

  • Oleh : an

Kamis, 09/Nov/2017 07:42 WIB


JAKARTA (Beritatrans.com) Para pelaku usaha logistik nasional berharap, pengaturan jam operasi kendaraan angkutan barang (golongan IV dan V) di jalan tol perlu ditinjau dan dikaji secara mendalam. Perlu dicarikan formula yang terbaik dengan resiko negatif paling kecil.Pembatasan operasi kendaraan golongan IV dan V itu baik dan arus lalu lintas makin lancar. Tapi apakah hasilnya optimal? Itu yang perlu difikirkan bersama, bagaimana mencari formula terbaik dengan resiko terkecil kata Ketua Angkutan Barang DPP Organda Ivan Kamadjaja saat dihubungi Beritatrans.com di Jakarta, Kamis (9/11/2017).Revolusi dan perbaikan pelayanan transportasi di Jabodetabek, lanjut Ivan, akan baik jika memenuhi tiga kriteria. Mereka itu adalah pelayanan transportasi yang mengakomodasikan semua kepentingan, cost efektif serta high impact. Jika ketiga unsur itu terpenuhi, baru bisa dikatakan baik dan memberikan manfaat besar pada ekonomi dan masyarakat, kata Ivan.Kemacetan di Jakarta termasuk ruas tol Jakarta-Cikaampek dan sebaliknya sudah dalam kondisi darurat. Selain volume kendaraan yang besar, saat ini ada tiga pekerjaan fisik di ruas tol itu, sehingga kapasitasnya memang jauh menurun. Di sisi lain, ada trend peningkatan kendaraan angkutan barang sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini, kata Ivan lagi.Dalam kondisi tersebut, menurut Ivan, pihaknya berharap Pemerintah khususnya Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) masih membuka ruang dialog dan menerima saran, masukan serta keberatan para pihak khususnya truk angkutan barang yang selama ini sering menjadi pihak yang dikalahkan.050889500_1462406113-20160505-tol_cikampek-kemacetan-jakartaButuh Solusi EkstrimDikatakan Ivan, Indonesia membutuhkan solusi yang ekstrim dan darurat sifatnya untuk mengetasi kemacetan ini. Kalau mengacu data BPTJ, populiasi kendadaraan di jalan tol Jakarta-Cikampek yang paling dominan adalah golongan I atau kendaraan pribadi yaitu 88%, disusul kendaraan gelolongan ll 95 dan sisanya 3% kendaraan golongan IV dan IV atau truk tronton angkutan petikemas.Menurut Ivan, kalau melihat populasi kendaraan sebagai penyumbang kemacetan, maka kendaraan pribadi atau golongan l yang harus diatur dan dibatasi karena mencapai 88%. Caranya dengan memberlakukan pembatasan melalui mekanisme nomor genap-ganjil di jalan tol. Selanjutnya, mengalihkan mereka ke angkutan umum massa baik berbasi bus, KRL atau lainnya, jelas Ivan.Pembatasan ganjil genap di tol, menurut Ivan, bukan berarti mobil pribadi tak boleh keluar. Bisa saja tetap beroperasi, tapi jangan melintas di jalan tol kalau melalui jalur arteri tetap bisa. Bagi orang-orang yang harus menggunakan kendaraan pribadi masih tetap bisa, tapi dengan mengikuti ketentuan yang berlaku, tandas Ivan.(helmi)