Jembatan Timbang Online, Era Baru Pemantauan Angkutan Barang ODOL

  • Oleh : Naomy

Rabu, 24/Jul/2019 19:15 WIB


JAKARTA (BeritaTrans.com) Merevitalisasi pelayanan di Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) atau Jembatan Timbang (JT), Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan pada tahun ini akan mengadakan integrasi sistem Jembatan Timbang Online (JTO) dengan sistem Bukti Lulus Uji Elektronik (BLUE) sebagai era baru pemantauan angkutan over dimensi dan over loading (ODOL)."Tahun 2018 telah kami lakukan sistem e-tilang meski belum semua JT menggunakannya, tapi secara bertahap akan kami lengkapi semua JT ini dengan sistem e-tilang untuk menghilangkan potensi hubungan langsung antara pihak pengemudi dengan para petugas. Jadi kalau ada pelanggaran yang sudah tercatat di sistem kita kemudian jika sudah diinformasikan kepada pengemudi berapa kelebihannya, pengemudi akan langsung membayar ke bank atau melalui mesin EDC yang ada di masing-masing JT, urai Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi di Jakarta, Rabu (24/7/2019).Jembatan Timbang Online (JTO) ini nantinya akan mengandung beberapa unsur yaitu:1. Traffic Counting, untuk menghitung jumlah kendaraan keluar dan masuk2. Sensor Dimensi, untuk mengukur dimensi truk3. Truck detector, untuk mengetahui isi muatan trukDengan traffic counting, akan dilakukan penghitungan berapa kendaraan masuk dan tidak masuk. Kalau truk tidak masuk dan ada potensi pelanggaran, pihknya sudah koordinasi dengan kepolisian. "Menempatkan petugas pada mulut-mulut jalan sebelum JT terutama pada malam hari dirasa berbahaya, jadi akan menggunakan sensor ini akan otomatis mencatat kendaraan yang masuk beserta nomor polisinya dan diserahkan pada polisi, ungkapnya.Selain itu dengan pemasangan alat pencatatan Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) pada akses jalan dari dan menuju JT di 18 JT yang berfungsi untuk pendataan angkutan barang yang masuk dan tidak masuk JT melalui pengambilan gambar nomor registrasi kendaraan oleh kamera secara langsung yang kemudian data tersebut akan terintegrasi dengan data-data yang ada di JTO.Untuk angkutan barang yang tidak melakukan penimbangan (tidak masuk ke dalam UPPKB) integrasi data tersebut akan langsung terkirim kepada Kepolisian terdekat untuk proses penegakan hukum.Sementara itu dengan sensor dimensi yang ada, menurutnya akan mempermudah petugas di lapangan serta hasilnya lebih akurat. Sebelumnya kita melakukan pengukuran dimensi dengan manual jadi kalau kasat mata terlihat ada pelanggaran dimensi maka petugas akan mengukur. Kemudian akan kita beri tanda untuk potong dan beri peringatan, barulah setelah diberi batasan waktu 3 bulan harus dipotong. Tapi nampaknya kita punya kelemahan karena ini kerja manual maka kita ganti dengan sensor dimensi yang akan mencatat secara otomatis berapa panjang truknya, berapa kelebihan lebarnya, juga tingginya, papar Budi.Untuk Truck Detector, akan mendeteksi di dalam kendaraan mengangkut barang-barang apa saja. Pihaknya sudah mencatat selama 13 hari (19-22 Juli) pada 21 JT yang ada pelanggaran yang tercatat di kita 9.225 dari total 11.379 kendaraan yang masuk ke UPPKB atau sebesar 81%.Pengembangan JTO yang terintegrasi dengan BLUE serta sistem izin operasional angkutan barang, nantinya akan diterapkan di 73 Jembatan Timbang yang terdiri dari 22 Jembatan Timbang eksisting dan 51 Jembatan Timbang baru. (omy)