Balitbanghub Gandeng ITS Kaji Strategi Pemulihan Transportasi Laut, Danau, dan Penyeberangan

  • Oleh : Naomy

Rabu, 30/Sep/2020 07:32 WIB


JAKARTA (BeritaTrans.com) Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) gandeng Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) kaji strategi pemulihan transportasi laut, danau, dan penyeberangan.Peran penting transportasi sangat terasa hingga ke seluruh sektor, terlebih ditengah pandemi Covid-19. Namun, di sisi lain, jasa transportasi bersama sektor pariwisata menjadi sektor yang paling terpukul. Bisnis sektor transportasi nasional pun telah ditekan, dan merata ke seluruh moda, terutama transportasi perairan.Di era pandemi saat ini, sektor transportasi mengalami penurunan sebesar 30% pada kuartal kedua. Oleh karena itu, Balitbsnghub bersama ITS bekerjasama mencari jalan keluarnya.Bertema tema Strategi Adaptasi dan Pemulihan Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan Pada Saat dan Pasca Pandemi Covid-19, dipaparkan dalam Webinar Series #7, Selasa (29/9/2020).Pandemi memang menurunkan pertumbuhan ekonomi, namun tanpa upaya sigap dari pemangku kebijakan untuk selamatkan nyawa penduduk Indonesia, maka optimisme perekonomian tidak akan pernah datang, ujar Kepala Balitbanghub Umiyatun Hayati Triastuti.Hayati menyebutkan, sektor maritim bukan hanya berfungsi untuk meningkatkan aktivitas ekonomi saja, tetapi juga sebagai simbol kekuatan dan kedaulatan negara. Bahkan berperan juga untuk menyatukan wilayah yang tersebar di Indonesia. Oleh karena itu perlu adanya pemulihan bisnis sektor transportasi perairan di saat dan pasca pandemi.Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, untuk kondisi transportasi laut dari Mei hingga saat ini telah mengalami kenaikan baik untuk angkutan penumpang maupun logistik. Direktur Jenderal Perhubungan Laut R. Agus H. Purnomo menyatakan, Indonesia diuntungkan dengan luasnya wilayah, dan jumlah penduduk yang besar, hal ini menyebabkan kebutuhan angkutan logistic yang cukup tinggi.Kargo harus jalan, penumpang juga harus jalan, sehingga ekonomi bisa terus berjalan, namun tentu harus dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, ujar Agus.Selain pengawasan terhadap protokol kesehatan, Kementerian Perhubungan telah memberikan relaksasi terhadap operator untuk sertifikasi kapal, perijinan, dan yang lainnya. Kita berikan penundaan, supaya mereka tetap dapat beroperasi dengan baik, bahkan kami juga telah memaksimalkan pelayanan dengan sistem online, tambahnya.Berdasarkan hasil rekomendasi dari kajian yang telah dilakukan oleh ITS, perlu ada stimulus untuk kembali memulihkan kondisi transportasi laut, sungai, danau, dan penyeberangan ini. Rektor ITS, Mochammad Ashari mengatakan terdapat beberapa instrumen yang telah dikemukakan, salah satunya subsidi kepada operator dengan optimalisasi pemanfaatan program pemulihan ekonomi nasional (PEN)."Berupa keringanan penangguhan pembayaran pajak, pembebasan biaya kepelabuhanan, relaksasi pinjaman, ataupun subsidi terkait biaya penerapan protokol kesehatan," tuturnya.Tanpa adanya relaksasi atau bantuan, kawan-kawan di bisnis kapal dan penyeberangan akan sulit untuk bangkit.Sedsngkan Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan PEN, Raden Pardede mengemukakan, Covid-19 ini nantinya akan berdampak pada perubahan struktur ekonomi dan akselerasi teknologi atau industry 4.0 akibat krisis menuntut adanya perubahan, terutama pada sektor transportasi. Post Covid ini kedepannya akan terjadi percepatan industri 4.0, dan itu harus disiapkan, termasuk di sektor transportasi, ungkapnya.Komite penanganan Covid-19 dan PEN memiliki beberapa program untuk memulihkan ekonomi di Indonesia, khususnya di sektor transportasi.Diantaranya Indonesia sehat yaitu dengan memulihkan kepercayaan masyarakat, sehingga potensi kegiatan serta konsumsi masyarakat meningkat, dan diharapkan hal ini akan menggerakan investasi. Selanjutnya, Indonesia bekerja, di mana kedepannya pemerintah akan fokus bagaimana Indonesia bekerja dengan menciptakan lapangan pekerjaan baru. "Terakhir Indonesia tumbuh, dimana Indonesia harus mampu bertransformasi, dan beradaptasi di setiap sektor, khususnya transportasi," tutup Ashari. (omy)