Senin Pagi, Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987, Peristiwa Kelam Kereta Api Indonesia

  • Oleh :

Senin, 19/Okt/2020 17:47 WIB


JAKARTA (BeritaTrans.com) - Tragedi Bintaro menjadi peristiwa bersejarah kelam yang tidak terlupakan. Banyak korban jiwa dan luka dalam kecelakaan kereta api, Senin 19 Oktober 1987 pagi.Kereta Api (225) Rangkas Bitung, Banten tujuan Jakarta adu banteng dengan KA 220 di Jalur Jakarta-Serpong. Kedua lokomotif dan gerbong pertama rangkaian kereta hancur setelah saling hantam.Dikutip dari sejumlah sumber, lokasi kecelakaan berada pada Km 17+252 lintas AngkeTanahabangRangkasbitungMerak. Lokasi tersebut berada pada tikungan S yang diapit Jalan Tol JakartaSerpong di barat dan Jalan Tol T.B. Simatupang di timurnya. Lokasi ini juga terletak sekitar 1,5 km di sebelah barat daya TPU Tanah Kusir.Koban jiwa maupun luka sebagian besar karena terjepit material padat kereta. Banyak ibu-ibu dan anak-anak yang menjadi korban dalam tragedi itu.Dari hasil penyelidikan setelah kejadian menunjukkan ada kelalaian petugas Stasiun Sudimara yang memberikan sinyal aman bagi kereta api dari arah Rangkasbitung. Padahal tidak ada pernyataan aman dari Stasiun Kebayoran karena tidak ada jalur yang kosong di Stasiun Sudimara.Versi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), kronologi kejadian bermula atas kesalahan kepala Stasiun Serpong memberangkatkan KA 225 (Rangkasbitung-Jakarta Kota) ke Stasiun Sudimara tanpa mengecek kepadatan jalur KA di Stasiun Sudimara.Sesuai grafik perjalanan kereta api (gapeka) yang berlaku saat itu, KA 225 dijadwalkan tiba di Stasiun Sudimara pukul 06.40 WIB untuk bersilang dengan KA 220 pada pukul 06.49 WIB, namun KA 225 terlambat 5 menit. Saat itu emplasemen Stasiun Sudimara yang memiliki 3 jalur, padat dan tidak dapat menerima persilangan KA karena jalur 1 dalam kondisi tidak mendukung dan hanya dipakai untuk langsiran unit tunggal.KA 225 terpaksa meninggalkan Stasiun Sudimara untuk berhenti lagi di stasiun berikutnya, Kebayoran. Sesuai aturan petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) Sudimara wajib meminta izin kepada PPKA Kebayoran melalui telepon dan mengirimkan Surat Pemindahan Tempat Persilangan (PTP) yang harus diserahkan langsung ke masinis dan kondektur KA 225.Pagi itu, terjadi pergantian PPKA dari sif malam ke sif pagi, namun Surat PTP diserahkan tanpa memberikan izin terlebih dahulu kepada PPKA Kebayoran sebelum sif terjadi. PTP diserahkan melalui petugas pelayanan kereta api (PLKA) baru kemudian dibacakan masinis dan kondektur KA 225.Saat serah terima sif tersebut, PPKA sif malam memberi tahu PPKA sif pagi (Umrihadi), KA 251, 225 dan 1035 belum tiba di Stasiun Kebayoran. KA 251 sedang melaju ke arah Kebayoran untuk bersilang dengan KA 220.Ketika KA 251 berhenti di Kebayoran, Umrihadi meminta izin untuk memberangkatkan KA 220 ke PPKA Sudimara, Djamhari dan dijawab sedang sibuk. Padahal sesuai prosedur Djamhari seharusnya tidak memberikan izin keberangkatan bagi KA 220 dan mengabarkan ada kereta api yang harus berangkat dari Sudimara ke Kebayoran sesuai jadwal.Sementara, KA 225 saat itu mulai dipadati penumpang hingga gergelantungan di pintu, jendela hingga di lokomotif. Setelah komunikasi antar PPKA ditutup, Umrihadi memberangkatkan KA 220 dengan asumsi persilangan KA 225 tetap dilakukan di Sudimara walaupun terlambat.Umrihadi juga sempat menghubungi Djamhari dan menyampaikan KA 220 sudah berangkat dari Stasiun Kebayoran. Padahal PTP sudah telanjur diberikan kepada masinis dan kondektur KA 225.Djamhari kemudian bingung dan berinisiatif melangsir KA 225 dari jalur 3 ke jalur 1 Stasiun Sudimara. Selanjutnya dia memerintahkan juru langsir untuk melangsir dengan menulis pada laporan harian masinis perihal langsiran tersebut.Juru langsir setelah diminta Djamhari dengan sigap mengambil bendera merah dan slompret, namun saat akan dilangsir, masinis tidak melihat semboyan karena terhalang penumpang. Sebelum juru langsir mencapai kereta paling belakang sekitar 7 meter tiba-tiba kereta mulai bergerak dan juru langsir gagal mengejar rangkaian kereta paling belakang karena kecepatan kereta mulai meningkat.Kondektur mencoba masuk ke dalam kereta tersebut tetapi tidak memerintahkan untuk menghentikan kereta. Juru langsir melapor ke Djamhari, KA 225 sudah berangkat tanpa izin. Dia langsung bergegas menggerakkan tuas sinyal masuk pihak Kebayoran tetapi tidak berhasil menghentikan kereta api.Djamhari saat itu berlari di tengah rel sembari mengibarkan bendera merah ke arah KA 225 tetapi gagal menghentikan kereta. Djamhari kembali ke Stasiun Sudimara dalam keadaan pingsan.Tiba-tiba, masinis 225 terkejut melihat KA 220 telah berada di depan mata. Tabrakan tidak terhindarkan meskipun telah menarik tuas rem.(amt/iNews.id/foto:istimewa/berbagaisumber)

Tags :